Materi Pelajaran Sistem Gerak pada Manusia

Status
Tidak bisa balas, sudah digembok.

Jelajah Ilmu

New member
Reputation: 3%
Daftar
Jan 8, 2025
Konten
8
Solutions
1
Skor reaksi
20
Poin
3
Sistem gerak manusia dapat menghasilkan dua gerakan, yaitu gerak biasa dan gerak reƪeks. Kedua gerakan tersebut menunjukkan adanya kerja sama antara sistem saraf dan sistem gerak. Adanya sistem gerak memungkinkan manusia untuk bergerak dengan leluasa. Selain itu, gerakan pada tubuh juga terjadi karena adanya komponen-komponen dalam sistem gerak, yaitu tulang, sendi, dan otot. Setiap komponen mempunyai struktur dan fungsi yang berbeda, tetapi saling bekerja sama untuk menghasilkan suatu gerakan.

1. Tulang Penyusun Rangka Tubuh​

Tulang termasuk komponen penting dalam sistem gerak manusia. Tubuh manusia memiliki berbagai jenis tulang. Tulang-tulang tersebut terhubung satu sama lain membentuk suatu rangka. Apa fungsi rangka bagi tubuh? Tulang-tulang apa saja yang menyusun rangka tubuh manusia?

a. Fungsi Rangka Tubuh​

Rangka tubuh manusia mempunyai beberapa fungsi seperti berikut.
  1. Memberi bentuk tubuh.
  2. Sebagai alat gerak pasif.
  3. Sebagai tempat melekatnya otot-otot rangka.
  4. Sebagai tempat pembuatan sel darah merah dan sel darah putih.
  5. Menegakkan dan menopang badan, misalnya tulang punggung dan tulang paha.
  6. Melindungi bagian-bagian tubuh yang lunak dan penting, misalnya tulang tengkorak melindungi otak.

b. Susunan Tulang dalam Rangka Tubuh​

Berdasarkan lokasi penyusunannya, tulang-tulang dalam tubuh dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu tulang tengkorak, tulang badan, dan tulang anggota gerak. Tulang apa saja yang menyusun tulang-tulang tersebut?

1) Tulang Tengkorak

Tulang tengkorak berfungsi menjaga atau melindungi otak dan memberi bentuk pada wajah. Tulang tengkorak tersebut tersusun atas tulang pipih dan tulang tidak beraturan. Apa saja bagian—bagian tulang tengkorak? Untuk mengetahuinya, perhatikan Gambar 1.19.

bagian_bagian_tulang_tengkorak.webp

2) Tulang Badan

Tulang badan berfungsi melindungi organ—organ bagian dalam dari gesekan, misalnya Inelindungi paru—paru dan jantung. Tulang badan terdiri atas tulang belakang, tulang rusuk, dan tulang dada.

a) Tulang Belakang

Tulang belakang berfungsi menguatkan dan menyeimbangkan tubuh saat berdiri. Susunan tulang belakang memiliki bentuk melengkung dengan tulang-tulang penyusun seperti dijelaskan pada Gambar 1.20.

struktur_tulang_belakang.webp

b) Tulang Dada

Tulang dada tersusun atas tulang berbentuk pipih yang meliputi bagian hulu, badan, dan taju pedang.

c) Tulang Rusuk

Tulang rusuk memiliki bentuk melengkung membentuk rongga sehingga berfungsi melindungi organ jantung dan paru-paru dari gesekan.Tulang rusuk tersusun atas 7 pasang tulang rusuk sejati, 3 pasang tulang rusuk palsu, dan 2 pasang tulang rusuk melayang.
Struktur tulang dada dan tulang rusuk dapat dilihat pada Gambar 1.21.

Struktur_tulang_dada_dan_tulang_rusuk.webp

3) Tulang Anggota Gerak

Tulang anggota gerak berfungsi mendukung terjadinya pergerakan. Tulang anggota gerak dibedakan menjadi dua, yaitu tulang anggota
gerak atas (tungkai atas) dan tulang anggota gerak bawah (tungkai bawah).

a) Tulang Anggota Gerak Atas

Tulang-tulang pada anggota gerak atas akan membentuk dan menyusun sepasang tangan. Tulang anggota gerak atas tersusun atas tulang lengan atas, tulang hasta, tulang pengumpil, tulang pergelangan tangan, tulang telapak tangan, dan tulang jari-jari tangan. Pada bagian pangkal tulang lengan atas berhubungan dengan tulang gelang bahu. Tulang gelang bahu terdiri atas tulang selangka dan tulang belikat.

b) Tulang Anggota Gerak Bawah

Tulang-tulang pada anggota gerak bawah akan membentuk dan menyusun sepasang kaki. Tulang anggota gerak bawah tersusun atas tulang paha, tulang tempurung lutut, tulang betis, tulang kering, tulang pergelangan kaki, tulang telapak kaki, dan tulang jari-jari kaki. Pada bagian pangkal tulang paha berhubungan dengan tulang gelang panggul. Tulang gelang panggul terdiri atas tulang usus, tulang duduk, dan tulang
kemaluan.

c. Macam-Macam Tulang Berdasarkan Bentuknya​

Berdasarkan bentuknya, tulang dibedakan menjadi empat, yaitu tulang pipih, tulang pipa, tulang pendek, dan tulang tidak beraturan. Apa perbedaan keempat bentuk tulang tersebut?

Macam-macam_tulang_berdasarkan_bentuknya.webp

Simaklah penjelasan berikut untuk mengetahui jawabannya.

1) Tulang Pipih

Tulang pipih memiliki bentuk pipih yang tersusun atas lapisan-lapisan tulang kompak dan tulang spons. Sebagai contoh, tulang dahi, tulang rusuk, tulang dada, dan tulang belikat. Pada bagian dalam tulang pipih terdapat sumsum merah yang berperan sebagai tempat produksi eritrosit
dan leukosit.

2) Tulang Pipa

Tulang pipa berbentuk seperti pipa atau silindris dengan kedua ujung tulang membulat, misalnya tulang lengan atas, tulang paha, dan ruas-ruas tulang jari. Tulang pipa terdiri atas tiga bagian utama, yaitu epifisis, metafisis, dan diafisis. Di bagian tengah tulang pipa terdapat rongga yang berisi sumsum tulang. Sumsum tulang terbagi menjadi sumsum tulang merah dan sumsum tulang kuning. Sumsum tulang merah berfungsi sebagai tempat pembentukan eritrosit, sedangkan sumsum tulang kuning berfungsi sebagai tempat pembentukan sel-sel lemak.

3) Tulang Pendek

Tulang pendek memiliki bentuk kubus atau bulat. Sebagai contoh, tulang-tulang pada pergelangan kaki, pergelangan tangan, dan tempurung lutut.

4) Tulang Tidak Beraturan

Tulang tidak beraturan merupakan gabungan dari berbagai tulang. Contoh tulang tidak beraturan, yaitu tulang rahang dan ruas-ruas tulang belakang.

d. Macam-Macam Tulang Berdasarkan Zat Penyusunnya​

Berdasarkan zat penyusunnya, tulang dikelompokkan menjadi tulang rawan dan tulang keras.

1) Tulang Rawan (Kartilago)

Tulang rawan tersusun atas sel-sel tulang rawan yang disebut kondrosit. Kondrosit merupakan sel-sel bulat yang besar dengan sebuah nukleus bening dan dua buah atau lebih nukleolus. Kondrosit dibentuk oleh sel-sel tulang rawan muda yang disebut kondroblas. Di dalam tulang rawan terdapat ruang-ruang yang disebut lakuna. Di setiap lakuna biasanya terdapat dua buah kondrosit. Ruang antarsel tulang rawan terisi banyak zat perekat dan mengandung sedikit zat kapur. Oleh karena itu, tulang rawan bersifat lentur (elastis).

Tulang rawan dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu tulang rawan hialin, tulang rawan fibrosa, dan tulang rawan elastis. Apa perbedaan ketiga jenis tulang rawan tersebut?

2) Tulang Keras

Tulang keras terdiri atas sel-sel tulang yang sangat padat dan dinamakan osteosit. Osteosit berasal dari proses pematangan oleh osteoblas. Osteosit berada dalam ruang-ruang kecil yang disebut lakuna. Ruang-ruang dalam lakuna tersebut terhubung oleh kanalikuli. Kanalikuli ini mengandung sitoplasma dan juga berperan dalam jalur sistem peredaran darah. Selain terdapat osteoblas, di dalam tulang keras juga terdapat sel-sel osteoklas. Sel-sel tulang keras mengandung banyak matriks yang tersusun atas senyawa fosfat dan kalsium. Mineral-mineral tersebut akan menentukan kelenturan tulang, tetapi hanya konsentrasi kalsium yang mengakibatkan tulang menjadi keras. Tulang keras dibedakan
menjadi dua seperti berikut.

a) Tulang Kompak (Tulang Padat)

Matriks tulang kompak mengandung zat kapur, fosfat, dan serabut kolagen. Contoh tulang kompak terdapat pada bagian diafisis tulang pipa.

b) Tulang Spons (Tulang Berongga)

Matriks tulang spons mengandung sumsum tulang atau sel-sel lemak. Contoh tulang spons terdapat pada bagian epifsis tulang pipa. Adapun struktur tulang rawan dan tulang keras dapat dicermati pada Gambar 1.23.

Struktur_tulang_rawan_dan_tulang_keras.webp

e. Proses Pembentukan Tulang​

Pada saat embrio, rangka manusia tersusun atas tulang rawan hialin. Sebagian tulang rawan ini akan berkembang menjadi tulang keras atau mengalami osifkasi. Urutan proses pembentukan tulang (osifkasi) sebagai berikut.
  1. Bagian dalam tulang rawan pada embrio berisi banyak osteoblas.
  2. Osteoblas membentuk osteosit. Osteosit tersusun melingkar membentuk sistem Havers. Di tengah sistem Havers terdapat saluran Havers yang mengandung banyak pembuluh darah dan serabut saraf.
  3. Osteosit menyekresikan zat protein yang akan menjadi matriks tulang. Selanjutnya, osteosit akan mendapat tambahan senyawa kalsium dan fosfat yang akan membuat tulang mengeras.
  4. Selama terjadi penulangan (osifkasi), bagian di antara epifsis dan diafsis akan membentuk cakra epifsis. Cakra epifsis berupa tulang rawan yang mengandung banyak osteoblas.
  5. Bagian cakra epifsis terus mengalami penulangan yang mengakibatkan tulang memanjang.
  6. Di bagian tengah tulang pipa terdapat osteoklas yang merusak tulang. Akibatnya, tulang tersebut menjadi berongga dan terisi oleh sumsum tulang.

f. Persendian atau Artikulasi​

Persendian atau artikulasi adalah hubungan antara dua tulang pada tubuh sehingga dapat memudahkan adanya pergerakan pada tulang. Berdasarkan sifat geraknya, persendian dibedakan menjadi sinartrosis (sendi mati), amfiartrosis (sendi kaku), dan diartrosis (sendi
gerak).

1) Sinartrosis (Sendi Mati)

Sinartrosis adalah persendian yang tidak memungkinkan terjadinya pergerakan. Sinartrosis ada dua macam, yaitu sinostosis (sinfibrosis) dan sinkondrosis. Sinostosis (sinfibrosis) adalah hubungan antartulang yang dihubungkan dengan jaringan ikat serabut padat, misalnya pada tengkorak. Sinkondrosis adalah persendian oleh tulang rawan (kartilago) hialin, misalnya hubungan antara tulang rusuk dengan tulang dada.

2) Amfartrosis (Sendi Kaku)

Amfiartrosis (sendi kaku) adalah persendian yang memungkinkan terjadinya sedikit gerakan. Hubungan antartulang ini dihubungkan oleh kartilago sehingga memungkinkan terjadinya sedikit gerakan, misalnya hubungan antara tulang betis dengan tulang kering.

3) Diartrosis (Sendi Gerak)

Struktur_sendi_gerak.webp

Diartrosis adalah persendian yang memungkinkan terjadinya gerakan tulang secara leluasa. Hubungan antara tulang ini dihubungkan oleh ligamen sehingga dapat digerakkan. Bagian-bagian sendi gerak sebagai berikut.
  • Ruang sinovial, berisi cairan sinovial yang berfungsi sebagai pelumas.
  • Ligamen, berupa jaringan ikat yang menghubungkan kedua ujung tulang.
  • Kapsul sendi, merupakan lapisan serabut yang menyelubungi rongga sendi.
  • Tulang rawan hialin, berfungsi melindungi kedua ujung tulang yang membentuk persendlan dari benturan keras.
Berdasarkan arah gerakannya, diartrosis atau sendi gerak dibedakan menjadi lima jenis, yaitu sendi engsel, sendi putar, sendi peluru, sendi geser, dan sendi pelana. Apa perbedaan kelima jenis sendi tersebut? Bagian tubuh manakah yang melibatkan sendi-sendi tersebut?

g. Gangguan atau Kelainan pada Rangka Tubuh​

Gangguan atau kelainan pada rangka tubuh dapat disebabkan oleh adanya gangguan fisik, gangguan fisiologis, gangguan pada persendian, dan gangguan pada kedudukan tulang belakang.

1) Gangguan Fisik (Mekanis)

Gangguan fisik ditandai adanya kerusakan fisik pada tubuh. Sebagai contoh, fraktura dan fisura. Fraktura adalah terputusnya jaringan tulang sehingga menyebabkan patah tulang. Adapun fisura adalah keadaan tulang yang retak, tetapi tidak melukai otot.

Tulang_pada_lengan_mengalami_fraktura.webp

2) Gangguan Fisiologis

Gangguan fisiologis disebabkan oleh kelainan fungsi hormon dan vitamin. Contoh gangguan akibat gangguan fisiologis sebagai berikut.
  • Rakitis adalah gangguan tulang yang disebabkan oleh kekurangan vitamin D sehingga menyebabkan bentuk kaki seperti huruf X atau O.
  • Osteoporosis adalah gangguan pada tulang yang ditandai dengan adanya penurunan massa tulang sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Gangguan ini dapat terjadi secara fisiologis karena proses penuaan yang disertai menurunnya hormon serta kurangnya asupan kalsium dan vitamin D.
  • Nekrosis adalah kerusakan pada selaput tulang (periosteum). Jika periosteum rusak, suplai makanan terhenti sehingga sel-sel tulang akan mati.
3) Gangguan pada Kedudukan Tulang Belakang

Gangguan pada kedudukan tulang belakang disebabkan oleh kesalahan dalam kebiasaan duduk yang meliputi kifosis, lordosis, dan skoliosis. Kifosis adalah keadaan tulang belakang yang membengkok ke belakang (bungkuk). Lordosis adalah keadaan tulang belakang yang membengkok ke depan. Skoliosis adalah keadaan tulang belakang yang membengkok ke kanan atau ke kiri.

4) Gangguan pada Persendian

Gangguan pada persendian ditandai dengan nyeri, bengkak, dan peradangan pada bagian-bagian tubuh tertentu. Contoh gangguan pada persendian dijelaskan seperti berikut.
  • Dislokasi adalah gangguan yang terjadi akibat pergeseran tulang penyusun sendi dari posisi awal.
  • Terkilir (keseleo) adalah gangguan yang ditandai dengan tertariknya ligamen pada persendian karena gerakan yang dilakukan tiba-tiba atau gerakan yang tidak biasa dilakukan.
  • Ankilosis adalah gangguan pada persendian yang mengakibatkan sendi tidak dapat digerakkan.
  • Artritis adalah gangguan peradangan pada persendian yang menimbulkan rasa sakit, misalnya rematoid, osteoartritis, dan goutartritis.

h. Teknologi untuk Mengatasi Gangguan atau Kelainan pada Rangka Tubuh​

Saat ini telah ditemukan beberapa jenis teknologi yang dapat digunakan untuk mengatasi gangguan dan kelainan pada rangka tubuh.

Transplantasi Sumsum Tulang

Sumsum merah yang terdapat di dalam tulang dapat ditransplantasikan dari satu orang ke orang lain. Transplantasi sumsum merah ini berguna untuk proses penyembuhan kanker darah (leukemia). Pada transplantasi sumsum merah ini diperlukan teknik khusus untuk memindahkan sumsum dari donor yang sehat dan menyuntikkannya ke resipien tanpa merusaknya.

Pengobatan Kerusakan Sendi

Dalam mengatasi permasalahan kerusakan pada sendi. saat ini telah dikenal metode pembedahan untuk mengganti sendi dengan bahan logam. Bonggol sendi diganti dengan logam campuran (misal campuran titanium) dan cawan sendi diganti dengan mangkuk polietilena (misal plastik)yang memilki kerapatan tinggi. Selanjutnya, kedua sisi direkatkan dengan senyawa metil metakrilat yang berpori sehingga fisiologi tulang tetap normal. Selain itu, kerusakan pada sendi juga dapat diatasi dengan melakukan terapl melalui pemberian obat—obatan.

Penyembuhan Patah Tulang

Penyembuhan patah tulang dapat dllakukan dengan cara-cara berlkut.

1) Pembidaian, dilakukan dengan cara menempatkan benda keras di daerah sekeliling tulang yang patah.
2) Pemasangan gibs, dllakukan dengan membungkuskan bahan kapur di sekitar tulang yang patah.
3) Pembedahan internal. dilakukan dengan cara melakukan pembedahan dan menempatkan batang logam pada tulang yang patah.
 

2. Struktur dan Fungsi Otot​

Dalam sistem gerak, otot dikenal sebagai alat gerak aktif karena otot mampu mendorong adanya pergerakan pada rangka tubuh. Otot terdiri atas sel-sel otot yang memiliki kemampuan untuk berkontraksi dan berelaksasi.

a. Macam-Macam Otot​

Berdasarkan bentuk morfologis, sistem kerja, dan lokasinya dalam tubuh, otot dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu otot polos, otot jantung, dan otot lurik.

1) Otot Polos

Ciri-ciri otot polos sebagai berikut.

a) Bentuknya bergelendong, kedua ujung meruncing, dan bagian tengah menggembung.
b) Di dalam sel terdapat satu inti sel yang terletak di tengah.
c) Bekerja di luar kesadaran.
d) Kontraksinya lambat dan tidak mudah lelah.
e) Terdapat pada organ-organ tubuh bagian dalam, misalnya usus dan lambung.

2) Otot Jantung

Ciri-ciri otot jantung sebagai berikut.

a) Berwarna gelap dan terang seperti otot lurik, tetapi memiliki satu atau dua inti sel yang terletak di tengah.
b) Bekerja di luar kesadaran.
c) Memiliki percabangan yang disebut anastomosis.
d) Kontraksinya teratur dan tidak mudah lelah.
e) Terdapat di jantung.
f) Memiliki diskus interkalaris.

3) Otot Lurik

Otot lurik disebut juga otot rangka. Ciri-ciri otot lurik sebagai berikut.

a) Bentuk sel silindris memanjang dan mempunyai banyak inti sel yang terletak di tepi sel.
b) Berwarna gelap dan terang yang berselang-seling.
c) Bekerja di bawah kesadaran.
d) Kontraksinya cepat dan mudah lelah.
e) Melekat pada rangka.

Kamu dapat melihat perbedaan ketiga jenis otot tersebut pada gambar berikut.

Otot_polos_otot_jantung_dan_otot_lurik.webp

b. Mekanisme Kontraksi dan Relaksasi Otot​

Otot memiliki kemampuan berkontraksi (memendek dan Inenebal) dan berelaksasi (kembali ke keadaan semula dan mengendur). Saat otot memendek (kontraksi) maksimal disebut dalam keadaan tonus. Tonus biasanya diikuti dengan relaksasi. Jika tidak diikuti dengan relaksasi dapat mengakibatkan kejang (tetanus). Otot meengalami kejang jika digunakan secara terus-menerus.

Secara mikroskopis, otot lurik memiliki struktur miofibril yang terdiri atas garis gelap dan terang. Setiap miofibril terdiri atas sarkomer yang dibatasi oleh dua garis Z. Sarkomer adalah unit dasar otot yang di dalamnya terdapat garis gelap dan terang. Pada garis Z di ujung sarkorner, tertempel filamen tipis (aktin). Sementara itu, di tengah sarkomer terikat filamen tebal (Iniosin). Sarkomer tersusun atas filamen protein tebal (miosin) dan tipis (aktin) yang saling bertumpang tindih. Perhatikan Gambar 1.29.

struktur_otot_lurik.webp

Berdasarkan strukturnya, sarkomer terdiri atas dua pita, yaitu pita A dan pita I. Pita A adalah area gelap yang berisi protein aktin dan Iniosin. Di
dalam pita A terdapat zona H yang hanya mengandung protein miosin di bagian tengah. Sebaliknya, pita I adalah area terang di ujung sarkomer yang hanya mengandung aktin. Saat berkontraksi, aktin dan miosin saling berinteraksi dan menggelincir satu sama lain. Akibatnya, zona
H dan pita I menyusut sehingga menyebabkan adanya pemendekan sarkomer.

Saat otot menerima rangsangan, asetilkolin dalam otot akan memicu pelepasan ion kalsium. Hal ini akan merangsang pembentukan aktomiosin
sehingga menghasilkan kontraksi otot. Namun, kontraksi otot tersebut membutuhkan pasukan energi. Energi akan diperoleh dalam bentuk
energi kimia. Tahap kontraksi otot tersebut disebut juga fase anaerob karena energi diperoleh dari penguraian ATP dan kreatin fosfat tanpa melibatkan oksigen. Energi tersebut akan digunakan untuk menggerakkan filamen yang menghubungkan aktin dan miosin.

Saat otot berkontraksi, kreatin fosfat akan mengalihkan fosforil pada ADP untuk membentuk ATP. ATP yang dihidrolisis akan terurai menjadi ADP dan menghasilkan energi yang digunakan untuk proses kontraksi. Jika pasokan ATP habis dan hanya tersisa ADP, ADP akan diuraikan menjadi AMP. Proses-proses kimia yang terjadi saat otot dalam keadaan kontraksi sebagai berikut.

Kreatin fosfat + ADP --> kreatin + ATP
ATP --> ADP + Energi
ADP --> AMP + Energi

Perhatikan mekanisme kontraksi otot pada Gambar 1.30.

mekanisme_kontraksi_otot.webp

Setelah rangsangan berhenti, ion kalsium akan direabsorpsi kembali. Akibatnya, konsentrasi ion kalsium menurun serta ikatan antara aktin dan miosin terputus. Oleh karena itu, sarkomer akan mengalami pemanjangan dan otot akan memasuki keadaan relaksasi. Otot akan berhenti berkontraksi ketika pasokan energinya habis. Selanjutnya, otot akan mengalami relaksasi. Tahap relaksasi disebut juga fase aerob karena energinya diperoleh dari hasil pemecahan glikogen yang memerlukan oksigen. Prosesnya adalah glikogen dilarutkan menjadi laktasinogen,
lalu diuraikan menjadi glukosa dan asam laktat. Glukosa akan dioksidasi sehingga menghasilkan energi serta melepaskan CO2 dan H2O. Adapun
asam laktat merupakan hasil samping dari penguraian laktasinogen. Timbunan asam laktat di dalam otot yang berlebihan dapat menyebabkan
rasa letih. Asam laktat yang menumpuk di sel-sel otot akan diangkut oleh darah ke hati untuk diubah lagi menjadi glukosa dan selanjutnya
diubah menjadi glikogen. Glikogen ini akan disimpan di dalam otot dan hati. Perhatikan mekanisme relaksasi otot Gambar 1.31.

mekanisme_relaksasi_otot.webp

c. Sifat Gerak pada Otot​

Berdasarkan sifat gerak otot, otot dibedakan menjadi otot sinergis dan otot antagonis. Otot sinergis adalah pasangan otot yang bekerja bersama-sama dengan tujuan yang sama. Sebagai contoh, otot-otot antartulang rusuk yang bekerja sama ketika menarik napas serta otot
pronator teres dan otot pronator kuadratus yang bekerja sama dalam menelentangkan dan menelungkupkan telapak tangan. Sementara itu, otot antagonis adalah pasangan otot yang kerjanya berlawanan. Sebagai contoh, otot bisep dan otot trisep. Saat mengangkat lengan bawah, otot bisep akan berkontraksi dan otot trisep berelaksasi.

Sifat_gerak_otot_antagonis.webp

d. Gangguan atau Kelainan pada Otot​

Gangguan pada otot dapat disebabkan oleh beberapa faktor yang dapat dikelompokkan menjadi faktor luar dan faktor dalam. Faktor luar meliputi kecelakaan dan serangan penyakit. Faktor dalam meliputi bawaan dan kesalahan aktivitas. Untuk mengetahui gangguan tersebut, bacalah penjelasan berikut.

1) Gangguan Karena Serangan Penyakit

a) Tetanus, otot mengalami kejang akibat serangan bakteri Clostridium tetani.
b) Atrofi otot, penurunan fungsi otot karena otot mengecil atau kehilangan kemampuan berkontraksi akibat serangan virus polio.

2) Gangguan Karena Kesalahan Aktivitas

a) Kram atau kejang, terjadi akibat kontraksi otot yang terus-menerus.
b) Hipertrofi otot, membesarnya ukuran otot akibat aktivitas otot yang berlebihan.
c) Kaku leher (stiff), terjadi karena hentakan yang mengakibatkan otot trapesius meradang.

3) Gangguan Otot Bawaan

a) Distrofi otot, melemahnya otot akibat cacat genetis.
b) Hernia abdominal, dinding otot abdominal sobek serta mengakibatkan usus melorot dan masuk ke rongga perut.

Kamu telah mengetahui bahwa sistem saraf dan sistem gerak saling berhubungan dan memengaruhi satu sama lain. Jika sistem saraf mengalami gangguan pasti akan memengaruhi mekanisme kerja sistem gerak. Gangguan apa sajakah yang menunjukkan keterkaitan antara sistem saraf dan sistem gerak? Simaklah materi berikut untuk mengetahuinya.

1) Lockjaw

Lockjaw (rahang terkunci) dapat terjadi karena penyakit tetanus. Tetanus disebabkan oleh infeksi bakteri Clostridium tetani yang dapat memengaruhi sistem saraf dan otot di seluruh tubuh kejang. Lockjaw sering menyebabkan kejang otot di rahang dan leher, bahkan dapat
menjalar ke seluruh bagian tubuh. Lockjaw memiliki kemungkinan muncul dalam rentang waktu yang bervariasi setelah bakteri penyebab tetanus memasuki tubuh melalui luka. Biasanya, masa inkubasi rata-rata sekitar 7-10 hari. Selain kejang, gejala yang dialami penderita lockjaw antara lain kesulitan menelan, kekakuan pada otot perut, keringat dingin, dan demam. Risiko yang mungkin terjadi akibat lockjaw antara lain patah tulang, emboli paru-paru, kerusakan otak, irama jantung abnormal, bahkan kematian.

2) Distonia

Distonia adalah suatu keadaan ketika otot-otot mengalami kontraksi yang tidak terkendali sehingga mengakibatkan gerakan berulang secara tidak sengaja. Kontraksi otot tersebut dapat bersifat ringan atau berat, bahkan dapat memengaruhi aktivitas seseorang. Distonia dapat diakibatkan adanya degenerasi atau kerusakan pada sel-sel otak, misalnya strok dan cedera otot. Distonia juga dapat terjadi karena faktor genetik.

Distonia pada orang dewasa umumnya terjadi di bagian anggota tubuh tertentu yang berdekatan, seperti otot leher dan wajah. Gejala distonia berdasarkan bagian tubuh yang terkena sebagai berikut.

a) Leher, mengalami gejala antara lain kepala cenderung bergerak ke salah satu sisi, gerakan berulang ke depan dan ke belakang, dan disertai rasa nyeri.
b) Kelopak mata, mengalami gejala antara lain berkedip lebih cepat dan sering dari biasanya sehingga dapat memengaruhi kemampuan melihat.
c) Rahang (lidah), mengalami gejala antara lain kesulitan berbicara dengan jelas, produksi air liur berlebihan, atau mengalami kesulitan dalam mengunyah dan menelan makanan.
d) Pita suara, mengalami gejala antara lain suara yang terdengar di telinga seperti berbisik.

3) Strok

Strok merupakan kondisi ketika pasokan darah menuju otak terganggu karena adanya penyumbatan pembuluh darah. Apabila terjadi penyumbatan pembuluh darah dapat mengakibatkan pecahnya kapiler darah. Jika kapiler darah yang pecah tersebut terjadi di otak, otak tidak mendapatkan suplai oksigen dan nutrisi. Akibatnya, sebagian sel-sel saraf di otak mengalami kematian yang dapat mengakibatkan strok. Peristiwa ini dapat memengaruhi sistem koordinasi tubuh. Penderita strok biasanya mengalami beberapa gejala, seperti kesulitan berbicara, kesulitan mengangkat kedua lengan, dan lemah pada otot-otot wajah yang membuat satu sisi wajah turun. Penderita strok yang parah akan
mengalami kelumpuhan pada separuh tubuhnya sehingga penderita kesulitan melakukan aktivitas.

4) Poliomyelitis

Poliomyelitis atau yang biasa disebut polio disebabkan oleh infeksi Poliovirus. Penularan virus ini terjadi melalui kontak langsung dengan air liur penderita atau mengonsumsi air dan makanan yang telah terkontaminasi dengan feses penderita. Oleh sebab itu, poliomyelitis mudah menyebar di daerah dengan sanitasi yang buruk. Virus ini menyerang saraf manusia. Poliomyelitis dibedakan menjadi polio nonparalisis dan polio paralisis. Polio nonparalisis terjadi ketika Poliovirus hanya menyerang sistem saraf tepi. Gejala poliomyelitis jenis ini bersifat ringan, meliputi demam, sakit kepala, radang tenggorokan, otot terasa lemah, kaku di bagian leher dan punggung, serta nyeri dan mati rasa di lengan dan kaki. Adapun
polio paralisis terjadi ketika Poliovirus menyerang hingga sistem saraf pusat (sumsum tulang belakang dan batang otak). Gejala polio paralisis lebih berat dibandingkan gejala polio nonparalisis. Gejala awal polio jenis ini meliputi kehilangan reƪeks, ketegangan otot yang terasa nyeri, hingga tungkai atau lengan terasa lemah. Lama-kelamaan penderita polio paralisis dapat mengalami kelumpuhan karena kinerja sistem saraf untuk mengolah dan menghantarkan informasi terganggu.

5) Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS)

Amyotrophic lateral sclerosis merupakan kelainan pada sel saraf motorik yang disebabkan oleh adanya faktor mutasi genetik. Kelainan ini juga dapat dipicu oleh gangguan autoimunitas yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel saraf motorik. Saraf motorik
berperan dalam menghantarkan impuls dari sistem saraf pusat menuju otot. Oleh sebab itu, penderita amyotrophic lateral sclerosis kesulitan menggunakan ototnya. Gejala dari kelainan ini meliputi kelemahan pada tangan dan kaki, sering terjatuh dan tersandung, kesulitan
saat berbicara dan makan, kesulitan berjalan, kesulitan mempertahankan postur tubuh, hingga sering tertawa, menangis, atau menguap secara tidak sadar.
 
Status
Tidak bisa balas, sudah digembok.
Back
Top Bottom